Cerpen Ken Hanggara

Suatu hari seorang lelaki ditemukan tewas gantung diri. Orang-orang yang ada di sekitarnya, para tetangga yang tak saling peduli satu sama lain, terlihat berdiri di luar pintu, dan terjadilah bisik-bisik. Karena mereka tidak saling mengenal, beberapa bisikan berakhir dengan ucapan-ucapan klise tentang betapa bodohnya orang yang mengakhiri hidup dengan cara itu.

Kedatangan petugas kepolisian membuat beberapa orang tersebut balik ke rumah masing-masing. Sebagian tinggal di situ untuk ditanya beberapa pertanyaan oleh polisi. Proses ini berlangsung lama. Tak jauh dari situ aku mengamati apa yang orang-orang kerjakan dan iseng menghitung waktu yang dihabiskan untuk mengurus seseorang yang mati bunuh diri untuk dibawa pergi entah ke mana.

Seorang bocah yang juga duduk bersamaku di salah satu anak tangga menuju lantai keempat, mengamati tingkah lakuku. Aku tidak heran meski kami tak saling bicara satu sama lain sejak kepindahanku kemari beberapa tahun lalu. Aku tak heran bahkan meski kemudian dia tampak penasaran dan coba mencari tahu apa yang kupikirkan.

Kubilang, “Baiknya kamu pulang ke ibumu.”

Anak itu diam untuk beberapa detik, lalu mengatakan tentang betapa bosan jika dia harus pulang ke rumah ibunya, tetapi masih lebih baik jika dia tetap di sini saja, meski sudah terlalu lama dia bermain sendiri karena tidak punya teman.

“Menurutmu, di sinilah kamu seharusnya main? Di lokasi di mana seseorang baru saja mati bunuh diri?”

“Sebelum orang itu mati, aku sudah di sini.”

Aku tidak menjawab pertanyaan bocah itu, karena hitunganku nyaris saja salah jika tetap kubiarkan dia menggangguku. Mataku yang tajam dapat melihat jarum detik di jam dinding tua yang berdiri kokoh di ruang tamu pria yang ditemukan bunuh diri itu. Lalu lalang di sekitar pintu tidak membuatku hilang fokus untuk menatap detik demi detik yang berlalu di jam itu.

Hanya saja, keberadaan si bocah, membuatku berpikir semua ini rasanya tak perlu. Toh orang-orang di situ telah bekerja, meski mungkin agak lamban. Tidak lama lagi aku percaya seseorang ditelepon, setelah mereka menemukan buku atau catatan yang berisi nomor-nomor yang biasa dihubungi oleh si korban bunuh diri. Seseorang itu sudah pasti keluarga atau teman dekat yang kemungkinan lama tidak bertemu dengannya, karena lelaki yang bunuh diri itu cukup kupahami seluk beluknya. Ia tidak pernah benar-benar dekat dengan siapa pun di kota ini. Hampir seluruh waktunya selama hidup di kota ini dihabiskan hanya dengan dirinya sendiri.

Aku tak mau ambil pusing tentang nasib jasad pria kesepian tersebut. Aku menoleh pada si bocah yang juga tak memiliki teman, dan berkata, “Sebaiknya kita pergi dari sini. Nanti mengganggu orang-orang bekerja.”

Bocah itu tertawa dan melonjak dari posisi duduknya tiba-tiba hingga membuatku yakin tubuh kurusnya bisa remuk saat menabrak tembok di dekat pintu apartemen si korban. Namun, dia bisa mengimbangi lonjakannya yang terlihat aneh itu, lalu melirik padaku dan berkata tentang beberapa lantai yang ada di bangunan ini. Di lantai teratas, kabarnya, ada perempuan yang memelihara banyak burung dan hidup seorang diri.

“Orang yang mati gantung diri itu seharusnya memelihara kucing atau anjing atau tupai atau apa pun biar tidak kesepian. Burung mungkin bagus, tetapi merawat burung di sini sangat sulit.”

“Kok kamu tahu?”

“Perempuan itu temanku. Sudah kuanggap seperti kakakku sendiri.”

Maka, kami pun ke atas, dengan menapaki satu demi satu anak tangga. Sebenarnya bisa saja kami menaiki lift, tetapi menurut si bocah, benda itu membuatnya tidak dapat mengendalikan diri. Aku paham keluhannya. Dulu ketika pertama kami saling bersitatap (saat aku baru saja datang ke bangunan ini), bocah itu terlihat sedih dan bercucuran air mata. Yang paling kukenang dari momen itu adalah dia berdiri kaku tepat di depan pintu lift.

Awalnya aku hanya bisa menduga beberapa kemungkinan tentang kenapa si bocah menangis, namun seiring waktu, setelah aku cukup sering melihatnya bermain di sekitar sini, aku memahami alasan air matanya itu. Aku juga memahami kebenciannya pada lift bobrok yang entah sudah berapa kali melahirkan keluhan dari bibir orang-orang pelit di seluruh sudut bangunan tinggi ini.

Kurasa perlu kusampaikan bahwa bangunan ini sudah cukup tua dan pengurusnya tidak terlalu peduli pada hal-hal teknis, selain bahwa orang-orang harus membayar agar dapat tinggal di sini. Uang sewa yang super murah tidak sebanding dengan permintaan fasilitas-fasilitas di atas standar. Aku mengerti. Aku sendiri jarang menggunakan lift.

Aku lebih senang menggunakan anak tangga. Itulah kenapa aku kerap menemui si bocah yang senang berkelarian di setiap jengkal anak tangga dalam bangunan ini, dan secara tidak langsung kami mulai saling memperhatikan, meski tidak menyapa. Tatapan matanya menyita perhatianku dan kuanggap dia sepotong sampel dari masa laluku yang tertinggal jauh di belakang. Di sana ada sebuah cerita tentang bocah yang membenci keluarganya dan bercita-cita membangun kehidupan kelak ketika dia dewasa; suatu cara hidup yang boleh dia rancang tanpa menuruti siapa pun. Barangkali itu juga yang kerap diangankan bocah yang membenci ibunya sendiri ini. Aku tidak tahu.

Kami tiba di lantai atas sekitar lima menit kemudian, dan begitu tiba di sana, udara terasa kembali sunyi seperti sebelum orang-orang menemukan keanehan di apartemen si korban bunuh diri. Bau menyengat yang sangat mengganggulah yang membuat si pria itu kedapatan mati tergantung di pertemuan antara ruang tamu dan ruang duduknya. Jika saja Tuhan menciptakan manusia dengan komposisi lain, sehingga ketika mati kita tidak mengeluarkan bau-bauan busuk, barangkali hingga kiamat tak ada yang menyadari jika seseorang yang sudah membeli secara penuh apartemennya itu telah lama mati. Itu bisa saja terjadi. Kelak suatu hari, entah berapa tahun kemudian, seseorang akan menemukan tulang belulang tergantung di situ dengan pakaian lengkap dan sepatu pantofel. Pikiran ini membuatku kehilangan fokus sesaat sampai si bocah menyentak tanganku, karena kami kini menghadap si perempuan pemelihara burung yang baru saja membukakan pintu.

“Ini teman baruku,” kata bocah itu pada si perempuan, yang kemudian menatapku dengan kesan yang sulit kugambarkan.

Pada saat ini, dari bawah terdengar raungan ambulans yang pergi menjauh ke pusat kota.

Si perempuan mengintip ke bawah melalui jendela di ujung lorong dan menatapku sekali lagi.

“Ya, itu dia,” kata si bocah. “Dia yang baru saja ditemukan mati gantung diri.” Perempuan itu hanya diam sampai si bocahyang bertahun-tahun sebelum hari ini ditemukan tewas terjepit lift—memintaku menyebutkan nama supaya obrolan kami yang akan berlangsung entah berapa lama bersama perempuan pencinta burung itu, tidaklah canggung.


KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), dan Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018). Segera terbit kumpulan cerpen terbarunya: Pengetahuan Baru Umat Manusia.