Ali Ibnu Anwar

Gambaran Jean-Paul Sartre tentang kekuatan intuisi dalam mengimbangi fakta, tidaklah sepenuhnya keliru. Bahkan, untuk memperkokoh pandangannya, Sartre juga mengutip proyeksi intuisi Husserl, bahwa fenomenologi adalah ilmu tentang “fakta” dan masalah yang diangkat oleh fenomenologi adalah masalah “tentang fakta” (Sartre, 2019:8).

Boleh jadi, dengan intuisi itu cerita pendek Nurillah Achmad yang berjudul Berbisiklah pada Batu-batu Tua di Gumitir Itu (BBTG), memiliki daya pikat dan getaran yang mengguncang pada frekuensi tertentu. Tentu dengan gaya bahasa puitik, Nuril berupaya menggerakkan imaji narasinya agar terasa berada “di luar dinding” ruang faktual.

Kecenderungan narasi puitik Nuril, sudah terasa sejak judul. Disadari atau tidak, penulis menghadirkan perspektif berbeda, untuk berdialog dengan pembaca agar dapat menerka rimba kata-katanya. Bukankah kesan tersebut juga dapat ditangkap, ketika kita mendengar lirik lagu Ebid G. Ade: coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang ?

Tak berhenti di judul, getaran yang sama juga terasa ketika kita membaca BBTG. Perhatikan beberapa contoh kalimat berikut: mereka menyusu pada getah rupiah; pada sejengkal matahari di atas Raung;  kau tampak mengatupkan mata sebentar sebelum akhirnya terjaga. Ketiga contoh kalimat tersebut, ada pada paragraf pertama. Bayangkan, betapa ketatnya narasi puitik Nuril, dan seberapa besar energi yang harus ia habiskan hanya untuk membangun satu paragraf, tanpa harus kehilangan kontak dengan membaca, untuk membangun deskripsi tersebut. Dan sebagian besar, sepanjang paragraf BBTG, bertebaran narasi puitik semacam ini.

Lantas, berdosakah seorang penulis membangun deskripsi cerita dengan narasi puitik? Sama sekali tidak. Hanya saja, bila kurang cermat, maka narasi puitik itu akan menjadi ranjau bagi penulis. Sebab akan rentan terjadi “hilang kontak” dengan pembaca—untuk menghidari kata gagal membangun deskripsi—serta membuat pembaca susah memasuki tubuh cerita. Sementara Nuril berhasil menyiasati “ranjau” tersebut, walau nyaris celaka pada: Ah, mawar hitam. Aku tahu kau melambaikan tangan sebelum akhirnya rimbun pepohonan menetaskannya jadi buih udara. Sistem leksikon pada frasa “mawar hitam” kurang terbangun dengan tepat.

Menariknya, justru dengan narasi puitik itu, Nuril berhasil membuat garis pembatas antara fakta dan fiksi, menjadi cair. Bisa dibayangkan, jika persoalan sederhana itu disampaikan dengan narasi cerita yang realistis, betapa monotonnya. Meminjam bahasa Umberto Eco, hanya terkesan sebagai divine comedy (komedi ilahi).Sebab, realita semacam ini sudah biasa kita temukan setiap kali kita melewati kelokan jalan Gumitir.

Susunan Puzzle Solilokui

Sedari awal, Nuril membangun alur cerita dengan berdialog pada diri sendiri. Semacam solilokui yang banyak didapati dalam teks-teks monolog. Cara ungkap semacam ini, populer digunakan dalam drama sebelum mengalami pergeseran aliran realisme di akhir abad ke-18. Tujuannya untuk mengungkapkan perasaan, firasat dan konflik batin dalam diri tokoh yang bercerita.

Membaca BBTG, serasa melihat serakan puzzle dalam balutan solilokui-solilokui, yang dibangun dengan sudut pandang masing-masing tokoh pembangun cerita. Di sini, saya merasa harus menemukan pola terlebih dahulu, untuk menyusun puzzle itu dengan tepat. Alih-alih menarik, justru pola tersebut akan terkesan aneh dan ganjil, bila salah menempatkan.

Barangkali, bagi Nuril plot yang selama ini umum diketahui dalam beberapa kajian prosa fiksi, bukan lagi menjadi penghalang untuk membangun sebuah cerita menjadi menarik. Mekanisme plot yang terstruktur, sangat memungkinkan cerita mudah ditebak sebagaimana album kolase. Sehingga, Nuril mencoba menelisik ulang proyeksi plot, sebagai uji coba memadupadankan konflik batin para tokoh dengan problem yang dihadapi oleh diri mereka masing-masing, dalam potongan fragmen solilokui.

Misalnya, “Aku A” memandang kehidupan tokoh lain—yang kemudian diketahui bernama Arsana—sebagai problem, dengan memantulkan cerminan dirinya yang sama-sama memiliki ibu, akan tetapi mengalami ketimpangan perlakuan yang sangat berjarak. Muncullah pertanyaan, apakah surga senantiasa berada di bawah kaki ibu? Jika demikian, mengapa ada surga yang sangat tidak menyenangkan?

Pada fragmen selanjutnya, “Aku B”—yang tak lain Arsana—menuturkan jalinan peristiwa, sebelum ia tak akan bertemu lagi untuk selamanya dengan “Aku A”. Secara diam-diam “Aku B” mengamati wajah belia “Aku A”, walau tak mungkin untuk menjalin hubungan, bahkan komunikasi antarkeduanya. Nah, jahitan fragmen-fragmen solilokui tersebut sekilas terasa rumit. Jika saja pola penokohan tidak kuat dan satu saja bagian yang diawal saya sebut “puzzle” itu hilang, maka kaburlah cerita tersebut.

Saya rasa, Nuril sudah berani mengambil risiko dengan tingkat “rawan gagal” yang tidak main-main.

Barangkali begitu cara Nuril menampilkan sebuah potret kehidupan yang sangat dekat dengan lingkungannya. Sekaligus mengingatkan kita, bahwa dalam urusan duniawi, hal sepele akan menjerat manusia menjadi tidak manusiawi. Toh, banyak kita dapati dalam berita, seorang ibu tega mengorbankan anaknya sendiri.  Sementara binatang, tak.


Bahan Bacaan:

Sartre, Jean-Paul. 2019. Transendensi Ego: Sketsa Sebuah Deskripsi Fenomenologi. Terjemahan oleh Aswar Herwinarko. Yogyakarta: Circa.

Eco, Umberto. 2019. Bahasa dan Kegilaan. Terjemahan oleh Saut Pasaribu. Yogyakarta: Circa.

http://sutera.id/2020/10/04/cerpen-nurillah-berbisiklah-pada-batu/ (Diakses 04/10/2020)

https://id.wikipedia.org/wiki/Senandika (Diakses 08/10/2020)


Ali Ibnu Anwar, penulis dan petani. Kumpulan puisi terbarunya, Orde Batu (Buku Inti: 2020)